25 March 2015

Kominfo Operasikan TV Digital di Papua 2017


Biak, Jubi/Antara – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menargetkan operasional program tv digital di wilayah Provinsi Papua pada tahun 2017.

Kepala Subdit Televisi Kementerian Komunikasi dan Informatika Syaharuddin di Biak, Rabu (25/3/2015), mengatakan, program tv digital memberikan kemudahan masyarakat untuk mendapatkan siaran tevelisi lebih banyak dan kualitas gambar lebih jernih dibanding sistem analog.

“TV Digital memiliki kualitas siaran berakurasi dan resolusi tinggi,” katanya.

Di Jakarta, menurut Syaharuddin, sebagian besar televisi swasta telah menerapkan sistem digital karena sangat menguntungkan dibanding sistem analog.

Bedasarkan program Kominfo, lanjut Syaharuddin, pelaksanaan tv digital secara bertahap diberlakukan di berbagai daerah Indonesia, diantaranya pada tahun 2012 diawali di Jawa dan Kepulauan Riau, 2013 di Aceh, Sumut, Kalimatan Timur dan Kalimantan Selatan.

Sedangkan tahun 2014, menurut Syaharuddin, di pulau Sumatera, tahun 2015 di Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Kalimantan dan tahun 2016 Sulawesi.

“Untuk Papua ditargetkan 2017 dan secara nasional akan berlaku sistem tv digital pada tahun 2018,” harapnya.

Dia meminta dinas komunikasi dan informasi di berbagai kabupaten/kota di Provinsi Papua, melakukan sosialisasi tentang program tv digital karena jika ini diberlakukan mendorong tumbuhnya usaha jasa komunikasi di masyarakat yang menguntungkan.

Berdasarkan data program tv digital di Papua diharapkan berdampak terhadap lima keuntungan diantaranya konsumen menerima kualitas gambar dan suara yang jernih, dari sisi lembaga penyiaran mendapatkan hemat biaya operasional 75 persen, indutsri kreatif tumbuh melalui konten nasional dan lokal.

Dari sisi industri kreatif kesempatan industri nasional memproduksi set top box (sejenis decoder) serta di sisi pemerintah efisiensi spektrum frekuensi radio dan potensi pendapatan negara bukan pajak dari digital dividen serta peningkatan pertumbuhan ekonomi dari broadband. (*)

SUMBER: http://tabloidjubi.com/2015/03/25/kominfo-operasikan-tv-digital-di-papua-2017/


2 Tahun Lagi, TV Digital Masuk Papua
Bisnis.com, BIAK -- Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menargetkan operasional program tv digital di wilayah Provinsi Papua pada 2017.

Kepala Subdit Televisi Kementerian Komunikasi dan Informatika Syaharuddin mengatakan program tv digital memberikan kemudahan masyarakat untuk mendapatkan siaran tevelisi lebih banyak dan kualitas gambar lebih jernih dibanding sistem analog.

"TV Digital memiliki kualitas siaran berakurasi dan resolusi tinggi," katanya (25/3/2015).

Di Jakarta, menurut Syaharuddin, sebagian besar televisi swasta telah menerapkan sistem digital karena sangat menguntungkan dibanding sistem analog.

Bedasarkan program Kominfo, lanjut Syaharuddin, pelaksanaan tv digital secara bertahap diberlakukan di berbagai daerah Indonesia, diantaranya pada tahun 2012 diawali di Jawa dan Kepulauan Riau, 2013 di Aceh, Sumut, Kalimatan Timur dan Kalimantan Selatan.


Source : Antara
Editor : Surya Mahendra Saputra

SUMBER: http://sulawesi.bisnis.com/read/20150325/20/187131/2-tahun-lagi-tv-digital-masuk-papua

24 March 2015

Kunci Sukses 4G di Indonesia Ada di 4C Ini


Achmad Rouzni Noor II

Jakarta - Layanan mobile broadband 4G LTE sejak Desember 2014 sudah bisa kita nikmati di sejumlah kota melalui tiga operator seluler. Mulai dari Jakarta, Bali, Bogor, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Medan, dan menyusul kota-kota lainnya seperti Manado dan Makassar.

Harapannya, 4G terus berkembang agar layanan seluler generasi keempat ini bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia. Tak hanya di kota-kota besar saja, tapi juga di kota-kota kecil di seluruh pelosok Indonesia sesuai roadmap Indonesia Broadband Plan 2014-2019.‎

Menurut Johnny Swandy Sjam, Ketua Komite Tetap Bidang Telekomunikasi Kadin Indonesia, bicara soal 4G memang tak bisa terlepas dari 4C, yakni Connectivity, Content, Commerce, dan Community.

"Semua 4C ini saling terkait dan tak bisa dipisahkan satu sama lain kalau 4G mau sukses di Indonesia," ujarnya dalam diskusi '4G & Rich Content: a New Era of Indonesian Broadband' bersama Menkominfo Rudiantara dan seluruh stakeholder telekomunikasi di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (24/3/2015).

Johnny Swandi (ist)
Bicara soal Connectivity, 4G tak akan terlepas dari spektrum frekuensinya. Saat ini yang sudah resmi mendapat restu dari Kementerian Kominfo adalah di pita 900 MHz. Kemudian nanti ada yang menggunakan extended dari spektrum 800 MHz, ada juga refarming teknologi netral di 1.800 MHz. Dan selanjutnya dari 2,1 GHz dan 2,3 GHz.

Bahkan di masa depan, kata Johnny, kita juga akan mendapat warisan spektrum frekuensi emas selebar 100 MHz di rentang 700 MHz ketika rencana migrasi TV digital bisa dieksekusi dan dirampungkan dalam beberapa tahun ke depan.

Namun yang jadi permasalahan, selain spektrum 900 MHz yang sudah resmi untuk komersialisasi, spektrum lainnya masih perlu pembahasan lebih lanjut. Bagaimana kejelasan penataan 800 MHz, 1.800 MHz, 2,1 GHz, 2,3 GHz, sampai 700 MHz.

Semua ini tentu akan berdampak pada rencana pembangunan infrastruktur dan tentunya ekosistem C lainnya -- Content, Commerce, dan Community. Ia berharap, permasalahan ini bisa dicarikan solusinya bersama, agar 4G bisa segera dinikmati tanpa batas oleh kalangan luas.

"Kurang lebih 4C yang saya utarakan maksudnya sama dengan filosofi DNA, yakni device, network, application. Setelah network-nya ada, device dan application-nya pun harus tersedia," kata Johnny.

Kalau mau jujur, device yang ada saat ini masih mahal untuk sebagian besar masyarakat yang daya belinya masih rendah. Gampangnya bisa kita lihat dari jumlah penetrasi smartphone di seluruh jaringan operator seluler, baru sekitar 20%-30% saja.

"Itu sebabnya kita butuh vendor yang bisa menggerakkan pasar agar ponsel 4G bisa murah, kalau bisa harganya di bawah Rp 1 juta selayaknya ponsel 3G yang telah banyak beredar," papar mantan Dirut Indosat tersebut.

Begitu network alias Connectivity sudah semakin luas coverage-nya, perangkat sudah semakin terjangkau, Content pun akan masuk dengan mudah. The real rich content yang melalui jaringan pita lebar seluler. Tak cuma Content yang sifatnya media sosial saja, tapi yang sifatnya menumbuhkan produktivitas ekonomi bangsa.

"Di sinilah peran kita sekarang, apakah kita mau membiarkan OTT asing leluasa tumbuh di jaringan kita? Saya rasa momen ini tepat untuk mendorong OTT dalam negeri yang tak kalah potensial," jelasnya lebih lanjut.

Apalagi spirit dari Menkominfo Rudiantara saat ini ingin menumbuhkan industri lokal, bisa dilihat dari rencana kebijakan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang sampai 40% untuk 4G. Tak cuma perangkat saja, konten pun diharapkannya juga harus punya sumbangsih untuk Indonesia.

"Ini juga masuk dalam 4C yang saya bilang tadi, salah satunya Commerce. Begitu ekosistemnya terbentuk, segala aktivitas di dunia nyata pun otomatis berpindah ke dunia maya. e-Commerce juga salah satunya. Orang akan banyak bertransaksi melalui internet," kata Johnny.

Dan terakhir, itu semua tak akan jalan tanpa adanya unsur pengguna yang pada akhirnya membentuk sebuah Community. Karena hakikat tujuan dari teknologi 4G ini memang untuk memudahkan kehidupan kita, bukan sebaliknya. (rou/fyk)

SUMBER: http://inet.detik.com/read/2015/03/24/094138/2867713/328/kunci-sukses-4g-di-indonesia-ada-di-4c-ini?i991101105

Indonesia Dirasa Belum Siap Gelar TV Digital


Pemain industri menyambut baik putusan PTUN gugurkan Permen no.22/2011
Oleh : Siti Sarifah Alia, Agus Tri Haryanto


VIVA.co.id - Pembatalan peraturan terkait TV Digital, dianggap industri sebagai langkah yang bagus. Sebab, negara ini dianggap belum siap menggelar aturan tersebut.

Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta mengabulkan gugatan Asosiasi Televisi Jaringan Indonesia (ATVJI) pada awal Maret, terhadap Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 22 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan TV Digital.

Terkait putusan PTUN, Chief Technology Officer PT VIVA Group, Julian Gafar, mengungkapkan sudah seharusnya permen tersebut digugat. Kondisi industri TV sekarang ini dianggap belum memungkinkan untuk menggelar digitalisasi.

"Saya rasa itu bagus. Dalam rangka melindungi dulu TV nasional. Industri ini perlu ada perlindungan dalam menghadapi pasar bebas ASEAN nanti yang dibuka, terus semua pemain asing datang dan kita dapat tekanan juga," ujar dia, saat ditemui usai acara Seminar TV Digital di Pullman Hotel Thamrin, Jakarta, Senin 23 Maret 2015.

Julian melanjutkan, nantinya jika TV digital terealisasi akan berdampak pada konsumen. Mereka akan berbondong-bondong membeli digital TV dengan segala macam perangkatnya untuk menghadapi era tersebut.

"Saya rasa memang market ini belum siap," kata pria berkacamata tersebut.

Kemudian, ia menjelaskan, digitalisasi ini akan berdampak pada era liberalisasi. Semua pemain akan diberi kesempatan untuk terjun, sehingga akan mengorbankan pemain lokal yang telah membangun industri ini dari awal.

"Problemnya adalah terdengar enak. Tetapi, misalkan 90 persen pemain tersebut modalnya di asing, bagaimana konten Indonesia? Bagaimana posisinya? Bagaimana pemain lokal yang sudah berusaha keras mendapatkan lisensi, investasi, dan lainnya? Kemudian, datang pemain internasional yang menenggelamkan itu semua. Bagaimana bila tidak ada proteksi dari pemerintah? Itu menurut kami," ujar dia.

Julian pun mencontohkan sektor perbankan yang sudah 'diracuni' dengan liberalisasi. Menurut dia, bank internasional sudah menyentuh daerah-daerah terpencil.

"Jadi, bagaimana dengan pemain lokal? Bagaimana tempat kita, apakah kita dilindungi, atau tidak? Di mana keberpihakan pemerintah terhadap bisnis nasional, dibandingkan bisnis internasional," jelas dia.

Saat disinggung, idealnya kapan penyelenggaraan digitalisasi yang tepat dilaksanakan di Indonesia. Julian mengungkapkan bahwa yang pasti tidak tahun ini.

"Mungkin lima tahun lagi. Kita lihat perkembangan industri seperti apa," tambahnya. (asp)

SUMBER: http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/604853-indonesia-dirasa-belum-siap-gelar-tv-digital

18 March 2015

Kominfo Banding Putusan Pembatalan Aturan TV Digital



PTUN batalkan 33 Kepmen lembaga multiplexing di 11 provinsi.
Oleh : Amal Nur Ngazis, Siti Sarifah Alia

VIVA.co.id - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) akhirnya mengambil sikap atas pembatalan aturan tentang terkait TV digital.
Kominfo menyatakan bakal mengajukan banding atas putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta pada awal Maret.

"Terkait dengan putusan PTUN pada 5 Maret 2015, yang membatalkan 33 Kepmen tentang Lembaga Multiplexing MUX pada 11 provinsi, maka setelah mempelajari dan mempertimbangkan secara seksama, Kemkominfo menempuh upaya banding terhadap keputusan PTUN tersebut," tulis Ismail Cawidu, Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemkominfo dalam pesan tertulis, Rabu 18 Maret 2015.

Cawidu mengatakan, pertimbangan pengajuan upaya hukum itu dilandasi untuk menjamin industri penyiaran dalam rencana peralihan teknologi penyiaran tersebut.

"Ini dimaksudkan untuk memastikan industri penyiaran dan masyarakat tetap mengarah kepada proses migrasi analog ke digital," kata Cawidu.

Disebutkan Cawidu, sikap Kemkominfo usai putusan PTUN itu adalah merancang ulang penyelenggara multiplexer yang bersifat independen dan efisien guna penyelenggaraan televisi digital.

"Juga untuk tetap terjaminnya pelaksanaan program pita lebar Indonesia dengan optimalisasi digital deviden," kata dia.

Dikabarkan sebelumnya, PTUN Jakarta pada 5 Maret mengabulkan gugatan dari Asosiasi Televisi Jaringan Indonesia (ATJI).

PTUN Jakarta mengugurkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 22 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan TV Digital. (asp)

SUMBER: http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/602755-kominfo-banding-putusan-pembatalan-aturan-tv-digital


Kominfo Appeal Decision Rules Cancellation Digital TV

VIVA.co.id - Ministry of Communications and Information Technology (Communications) finally take a stand for the cancellation of related rules on digital TV.
Communications and Information Technology said it will appeal the decision of the State Administrative Court (Administrative Court) Jakarta in early March.

"With regard to the decision of the Administrative Court on March 5, 2015, which canceled 33 Decree on MUX Multiplexing Institute in 11 provinces, then after careful study and consideration, Kemkominfo take an appeal against the decision of the administrative court," wrote Cawidu Ismail, Head of Information and Public Relations Kemkominfo in a written message, Wednesday, March 18, 2015.

Cawidu say, consideration was based on the submission of legal efforts to ensure the broadcasting industry in the broadcasting technology transition plan.

"It is intended to ensure the broadcasting industry and the public still leads to the analog to digital migration process," said Cawidu.

Mentioned Cawidu, Kemkominfo attitude after the administrative court ruling is to redesign the organizers multiplexer independent and efficient for the implementation of digital television.

"Also, to keep ensuring the implementation of the program by optimizing the broadband Indonesia digital dividend," he said.

Previously rumored, the Jakarta Administrative Court on March 5 in favor of the Association of Indonesian Television Network (ATJI).

Jakarta State Administrative Court prejudice the Regulation of the Minister of Communication and Information Technology Number 22 Year 2011 on the Implementation of Digital TV.