Sudah lama saya mau membuat tulisan tentang TV Digital. Di satu sisi karena saya gerah dengan lambatnya proses migrasi dari TV analog ke TV digital, dan di sisi lain ternyata banyak pertanyaan mengenai TV digital ini. Mulai dari pertanyaan bersifat awam sampai pertanyaan yang bersifat teknis. Sebelumnya, saya memperkenalkan diri sebagai Planning and Solution Engineer di salah satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang konsultasi dan implementasi transmisi televisi.

Sejujurnya banyak aspek yang bisa diungkapkan untuk menjelaskan TV digital. Mulai dari segi teknologi yang digunakan, kualitas gambar maupun aspek penggunaan frekuensi. Saya akan coba menjelaskan sedikit tentang TV digital ini, semoga bermanfaat.

TV Analog
Tidak lengkap kalau kita membicarakan TV digital tanpa membahas terlebih dahulu TV analog. TV analog ini adalah sebutan untuk TV free-to-air (gratis/tidak berbayar) yang biasa disaksikan oleh banyak penonton. TV analog ini digunakan di frekuensi UHF (480-860 MHz) dan setiap stasiun TV yang siaran di frekuensi ini memperoleh jatah 8 MHz untuk 1 channel. 8 MHz ini adalah standar yang digunakan di Eropa. Kalau di Amerika, setiap stasiun TV ini memperoleh jatah 6 MHz untuk 1 channel. Nah, untuk mempermudah pengucapan, biasanya juga orang-orang tidak menyebutkan TV A di frekuensi x sampai y, akan tetapi menyebutkan TV A di channel 22, TV B di channel 23, dan seterusnya. Itulah kenapa banyak stasiun TV menyebutkan TV A channel sekian.

Nah selain itu, ada juga pembagian wilayah layanan, dimana kalau satu channel sudah terpakai di wilayah tersebut, maka stasiun TV lain tidak bisa menggunakan channel tersebut. Misalnya TV A menggunakan channel 24, maka TV B tidak bisa menggunakan channel 24 lagi di wilayah tersebut. Selain tidak bisa menggunakan channel yang sama, channel yang bersebelahan juga tidak bisa digunakan, yaitu channel 23 dan 25. Kalau terjadi penggunaan channel ini, maka akan terjadi gangguan, atau biasa disebut interferensi. Semoga di next update saya bisa jelaskan apa itu interferensi.

Dari gambaran di atas, bisa terlihat bahwa kalau ada 30 stasiun TV di suatu wilayah, maka channel yang dibutuhkan adalah 30 x 2 = 60 channel. Jelas hal ini tidak bisa diakomodasi oleh channel yang ada sekarang.
Oleh karena itu, pada sistem analog, kalau seseorang mau memiliki stasiun TV, dia harus punya konten, izin frekuensi dan juga infrastruktur untuk penyiaran.
Setelah melihat dari penggunaan frekuensi, kita juga bisa melihat dari segi pengguna. Untuk menerima sinyal analog ini, pengguna hanya membutuhkan antenna dan televisi. Sehingga kalau digambarkan, aliran informasinya sebagai berikut :

Pemancar Analog -> Antenna Penerima -> TV

Setelah itu, jika kita lihat dari kualitas gambar yang diterima, maka TV analog ini bisa menerima gambar yang sangat bagus, bagus, biasa saja, jelek, sangat jelek, dan sebagainya. Oleh karena itu TV analog ini juga sulit untuk ditentukan QoS (Quality of Service)nya. Walaupun ada standar yang ditetapkan oleh ITU (International Telecommunication Union), tetapi tetap saja penilaian gambarnya jadi bersifat sangat subjektif.

TV Digital
Untuk TV Digital, kita bahas dengan parameter-parameter yang sama juga dengan cara kita membahas TV Analog. TV Digital yang saya bahas, adalah sebutan untuk TV free-to-air (gratis) yang beroperasi juga di frekuensi UHF. Jadi kalau pembaca mengenal sebutan TV kabel, TV satelit, dan sebagainya, itu bukan hal yang saya bahas di sini. Hehehe. Mungkin lain kali akan sempat saya bahas.

Di dunia, ada banyak teknologi / standar yang digunakan oleh TV digital. Di Indonesia sendiri, teknologi yang digunakan menggunakan standar yang dikembangkan di Eropa, disebut DVB-T2. Dari segi penggunaan frekuensi sendiri, setiap channel berukuran 8 MHz, sama dengan TV Analog. Lalu apa bedanya??
Pada sistem TV digital, dikenal istilah multipleksing dimana banyak konten bisa masuk ke 1 channel frekuensi bersamaan. Artinya, kalau kita mau buat TV, kita bisa saja hanya memiliki konten. Mengenai frekuensi dan infrastruktur nya, kita bisa “nebeng” ke pemilik frekuensi. Untuk standar DVB-T2, total konten yang bisa dimasukkan ke dalam 1 channel itu up-to 20 konten. Secara kasar, bisa diartikan kalau dulu 1 channel itu hanya bisa menampung 1 stasiun TV, sekarang 1 channel itu bisa menampung 20 stasiun TV. Tentu menjadi lebih membuka kesempatan kepada industri konten yang tidak memiliki modal besar untuk bisa memasarkan produknya.

Selain dari segi penggunaan frekuensi, dari sisi pengguna juga ada perubahan. Kalau dulu dari antenna penerima bisa langsung masuk ke TV, pada sistem digital tidak. Pada TV digital, dari sistem analog masuk dulu ke perangkat yang namanya set-top-box atau biasa juga disebut decoder. Fungsi dari decoder ini adalah menerjemahkan sinyal digital menjadi gambar/suara yang bisa ditampilkan oleh TV. Jika digambarkan, alur informasi pada sistem TV digital adalah sebagai berikut :

Pemancar Digital -> Antenna Penerima -> STB -> TV

Jika kita melihat kualitas gambar siaran yang diterima, maka di TV digital ini hanya ada istilah diterima atau tidak diterima. Kalau sinyal yang diterima melebihi nilai tertentu maka gambarnya diterima (dengan kualitas yang baik) sedangkan jika tidak melebihi nilai tertentu maka gambarnya akan hilang. Lebih mudah dalam menentukan QoS kan?

Manfaat TV Digital
Peraturan pemerintah tentang TV Digital sendiri sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2007, dimana ketika itu pemerintah memutuskan untuk mengunakan standar DVB-T. Akan tetapi, tender penyelenggara TV Digital sendiri baru dilaksanakan pada tahun 2012 dengan menggunakan standar DVB-T2. Penulis sendiri berkesempatan melakukan instalasi dan pengujian perangkat pemancar DVB-T2 di beberapa tempat. Pertanyaan yang paling sering penulis dapatkan adalah, apa kegunaan TV digital itu sendiri sebenarnya?
  • Dari segi end-user atau pemirsa, tentu manfaat terbesarnya adalah beragamnya konten yang tersedia dan juga kualitas siaran yang lebih baik. Dengan teknologi TV digital ini, operator TV “dipaksa” memberikan kualitas layanan yang benar benar terukur.
  • Dari segi industri konten, jelas manfaat besarnya diharapkan industry konten skala menengah bisa berkembang dan memberikan pendapatan maupun menyerap tenaga kerja bagi Negara. Walaupun sebenarnya manfaat ini masih diragukan mengingat paradigm pelaku industri broadcast masih pemilik konten harus memiliki frekuensi juga. Tapi dengan upaya propaganda dan sosialisasi yang baik, manfaat ini bisa terwujud.
  • Dari segi pemerintah, tentu ketika memindahkan dari TV analog ke TV digital ini ada harapan, bahwa nantinya aka nada analog switch off, yaitu periode dimana semua stasiun TV analog menghentikan siarannya dan yang beroperasi hanya pemancar digital. Pada periode ini, akan banyak sisa frekuensi yang tidak digunakan. Sisa frekuensi ini disebut digital deviden dan tentu bisa digunakan untuk layanan lain. Misalnya untuk layanan seluler sehingga bisa meningkatkan kecepatan data di Indonesia, atau bisa juga untuk keperluan lainnya. FYI, penggunaan frekuensi untuk seluler itu lebih memberikan pendapatan kepada Negara dibandingkan penggunaan frekuensi untuk broadcast.
Dari tulisan di atas, saya sangat mendukung program pemerintah untuk melakukan migrasi TV digital, melihat segi manfaat yang lebih besar dari segi investasi yang harus dilakukan.
Tulisan ini sepenuhnya opini berdasarkan pemahaman saya terhadap apa yang saya jalani tahun-tahun terakhir ini. Semoga bermanfaat. Untuk hal yang lebih teknis, lebih enak dibicarakan langsung. Saya dapat dihubungi via twitter @umarsaidh.
Terima Kasih.

Penulis: Umar Said Habibulloh Zakaria - Teknik Telekomunikasi ITB - DVB-T2 Network Planner @ Menimas Broadcast Solution


sponsored link

Post a Comment Blogger

 
Top