Titis Fantastis
SECARA pasti saya tidak tahu. Tetapi, taruhlah lokasi pemancar-pemancar televisi untuk kawasan Jember itu terletak di dataran tinggi Bangsalsari, atau Jenggawah atau di Kalisat atau Arjasa, kalau ditarik garis lurus, dari rumah saya di Jember Selatan jaraknya tidak lebih dari limapuluh kilometer. Herannya, sekalipun begitu, gambar siaran televisi di rumah saya luar biasa kepyurnya. Dari sekian banyak stasiun televisi yang mengudara di Jember, yang gambarnya lumayan hanya GlobalTV, RCTI, Indosiar dan SCTV. Saya bilang lumayan ya karena dibanding yang lain ia tampak lebih jernih. Walau tidak bening-bening amat.

Padahal untuk bisa menangkap siaran televisi, orang di desa saya telah mengunakan antena yang dipasang dengan sebatang bambu yang tinggi sekali. Lengkap dengan booster outdoor dan indoor. Bahkan, mungkin saking geregetannya, tetangga depan rumah malah melengkapi antenanya yang menjulang itu dengan alat dapur bekas macam tutup panci, serok dan sarangan dandang. Hasilnya? Ya tetep saja buram.

Dengan kondisi siaran televisi yang begitu itu, tidak mengherankan bila ada orang yang jeli memanfaatkan peluang dengan menggelar layanan televisi berbayar. Walau kalau ditelisik lebih dalam, layanan pay tv model di kampung saya itu adalah bukan bisnis yang ‘jelas’. Bagaimana tidak, dengan menjadi pelanggan beberapa saluran televisi berbayar, konten di dalamnya dijual lagi dengan ‘liar’. Lalu bagaimana dengan tarifnya?
Begini; untuk menjadi pelanggan, konsumen lebih dulu dikenai uang ‘amra’ sebesar 150 ribu. Uang segitu itu sebagai ongkos pengadaan dan pemasangan jaringan dari instalasi kabel terdekat sampai menuju lokasi pesawat televisi di dalam rumah pelanggan. Kalau hanya menarik jaringan baru dari tetangga yang dempet rumah, tentu uang segitu terbilang mahal. Dengan biaya bulanan yang hanya limabelas ribu, pelanggan bisa menikmati tayangan televisi dalam dan luar negeri sebanyak lebih-kurang 40 saluran. Murah bukan?

Kalau dua orang tua saya yang sudah sepuh hanya demen menonton sinetron Tukang Bubur Naik Haji-nya RCTI atau serial Damarwulan-nya Indosiar, tentu berlangganan tv berbayar liar itu tak terlalu mendesak dilakukan. Tetapi, dengan kondisi mata yang makin tua, menyaksikan layar kaca yang gambarnya kurang jelas tentu bukan hal yang menyenangkan. Lalu harus bagaimana?

Kemarin, saat pulang kampung, di antara beberapa barang oleh-oleh, saya sertakan juga sebuah antena televisi kiriman teman blogger asal Jogja. Sebuah antena buatan Bantul bermodel praktis bermerek Titis. Saya sudah pernah menjajal antena ini di Suroboyo dengan torehan prestasi  bisa menangkap siaran televisi B-One Bojonegoro.

Antena lama di rumah ortu saya itu tidak saya turunkan, dan saya memotong bambu baru untuk tempat Titis nangkring di ketinggian. Memakai kabel antena dan konektor kualitas atas, saya berharap siaran televisi di rumah saya makin cemerlang. Dengan mengarahkan antena ke arah kota Jember berada, saya berharap Titis mampu memenuhi ekspektasi saya.

Sesaat setelah ujung antena saya colokkan ke pantat televisi, kemudian pesawat TV tabung merek Samsung itu saya hidupkan, hasilnya sungguh fantastis. Yang tadinya dengan antena lama berbooster luar-dalam saluran yang tertangkap hanya empat (RCTI, GlobalTV, Indosiar dan SCTV), dengan memakai Titis tanpa tambahan boster (atau tutup panci. Hehe), siaran televisi yang tertangkap dengan jelas menjadi sebelas! (TVRI, RCTI, GlobalTV, NET., TransTV, Trans|7, JTV, MetroTV, MNCTV, Indosiar (untuk Indosiar ada 2, tapi yang lebih bening 1).

Satu lagi, bila dengan antena lama ketika saya coba mencari siaran digital terrestrial tidak ada sinyal yang tertangkap, dengan Titis saya bisa menemukan MetroTV di 610 Mhz (kanal digital 38). *****

SUMBER: Sisi Televisi (Blog Pak Edi Winarno, Surabaya Jawa Timur)

sponsored link

Post a Comment Blogger

 
Top