Seorang karyawan menunjukkan paket program tayangan Indovision-Okevision-Top TV (ANTARA FOTO/Eric Ireng)
Beberapa perusahaan tv nasional telah keluarkan ratusan miliar untuk migrasi ke TV digital
Bareksa.com - Migrasi dari TV analog ke TV digital hingga saat ini belum ada kejelasan. Padahal, beberapa perusahaan media raksasa seperti PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN), PT Surya Citra Media Tbk. (SCMA) , dan PT Visi Media Asia Tb. (VIVA)  sudah mengeluarkan investasi yang cukup besar untuk mengalihkan siarannya ke digital.

MNCN memiliki stasiun televisi RCTI dan Global TV, SCMA memiliki stasiun televisi SCTV dan Indosiar. Adapun VIVA menguasai stasiun televisi ANTV dan TVOne.

Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) pada Maret 2015 membatalkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika  (Kominfo) No. 22/2011 tentang Migrasi TV Digital. Alhasil, kewajiban perpindahan jaringan televisi analog ke digital terancam mundur dari rencana awal, bahkan bukan mustahil batal.

Berlarut-larutnya masalah TV digital bisa berdampak besar terhadap pemilik stasiun-stasiun televisi swasta karena dana investasi sudah dikeluarkan.

Dari penelusuran Bareksa, beberapa perusahaan televisi nasional tercatat telah menggelontorkan sejumlah dana untuk program ini, di antaranya:

Tabel Investasi Perusahaan Media (dalam miliaran rupiah)

sumber: laporan keuangan, laporan tahunan & keterbukaan informasi perusahaan
Dari laporan keuangan MNCN 2014, investasi untuk pembangunan TV digital mencapai Rp183 miliar yang terbagi atas Rp103 miliar pada 2013 dan Rp80 miliar pada 2014.  MNCN tercatat melakukan pembangunan TV digital di Aceh, Sumatera Utara, Jawa Barat, Kepulauan Riau, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kalimantan.

SCMA dalam laporan tahunan 2014 tercatat telah mengeluarkan investasi Rp120 miliar yang mayoritas digunakan untuk migrasi ke TV digital.  Setali tiga uang dengan VIVA. Robertus Bismakara Kurniawan, Wakil Presiden Direktur VIVA dalam public expose 17 April 2015 menyebutkan sudah mendapatkan 6 dari 7 zona yang tersedia dengan melakukan investasi sebesar Rp137 miliar.

Masih belum jelasnya migrasi tersebut menyebabkan kebingungan. Beberapa perusahaan masih menunggu, mengalihkan dan bahkan menghentikan investasinya untuk migrasi ke frekuensi digital.

Menurut Robertus, investasi VIVA di TV digital tahun ini masih akan disesuaikan bergantung jadwal dari pemerintah yang akan menyelenggarakan tender untuk zona lainnya.

Syafril Nasution Corporate Secretary MNCN dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia pada 17 Maret 2015 mengatakan masih menunggu keputusan Kominfo tentang kelanjutan TV digital. Investasi perseroan yang sudah terlanjur dialokasikan untuk pengembangan TV digital sementara akan digunakan untuk pengembangan jaringan TV analog.

Langkah hampir serupa dilakukan oleh SCMA yang langsung memotong capex setelah Peraturan Menteri dibatalkan oleh PTUN. Susanto Hartono Direktur Utama SCMA seusai RUPST Selasa 21 Maret mengatakan bahwa perseroan menurunkan capex dari Rp350 miliar menjadi Rp150 miliar karena program TV digital belum bisa dilanjutkan.

"TV digital dihentikan dulu, masih ada proses di PTUN. Jadi capex kami turunkan menjadi Rp150 miliar,"

Persiapan migrasi sudah dilakukan oleh pemerintah sejak 2007 ditandai dengan Peraturan Menteri (Permen) Kominfo No 7/2007 tentang standar penyiaran televisi digital teristrial. Migrasi kemudian mendapat penolakan dari stasiun TV lokal karena frekuensi TV digital dimiliki oleh pemenang tender, yang notabene merupakan perusahaan televisi nasional.

Lantaran frekuensi dimiliki oleh TV nasional, perusahaan TV lokal yang berniat migrasi ke TV digital harus menyewa slot kepada pemilik frekuensi. Berarti ada dana yang harus dikeluarkan lagi. Inilah yang dianggap memberatkan. (pi)

Oleh: Adam Rizky Nugroho

SUMBER: http://www.bareksa.com/id/text/2015/04/28/aturan-tv-digital-dibatalkan-apa-dampak-bagi-scma-viva-dan-mncn/10304/analysis

sponsored link

Post a Comment Blogger

 
Top