Beberapa waktu lalu, tepatnya hari Rabu dan Kamis, tanggal 4 dan 5 Februari 2015 berlangsung Public Hearing antara Komisi Penyiaran Indonesia Daerah ( KPID ) dan para penyelenggara siaran di Kantor KPID Yogyakarta di Jalan Brigjen Katamso, bertajuk PUBLIK HEARING TEMU STAKEHOLDER IKHTIAR MENCAPAI IKLIM PENYIARAN LEBIH BAIK, dengan Pembicara Ahmad Ghozi Nurul Islam ( Komisioner KPID ) dan Hanafi Rais ( Wakil Ketua Komisi 1 DPR RI ).

Beredar gosip diantaranya bahwa MUX ( Multiplexer ) DVB-T2 akan diambil alih pemerintah. Jadi pihak Swasta atau LPS tidak boleh menjadi NETWORK PROVIDER, hanya boleh jadi CONTENT PROVIDER. Jadi kelak Pemerintah akan mengambil alih semua perangkat pemancar DVB-T2 yang dipunyai "Pemenang Tender" versi Permen terdahulu. Tidak ada Lembaga Penyiaran Swasta (LPS) yang menguasai frekuensi dan MUX TV Digital.

Penulis pribadi menyambut baik hal itu, walaupun itu baru sebatas isu / gosip. Berdasar atas UUD 1945 pasal 33 yakni: "Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat" dan frekuensi adalah termasuk di dalamnya maka Negara-lah yang sepatutnya mengelolanya. Dalam hal ini salah satu kemungkinannya adalah Network Provider dikelola oleh Televisi Republik Indonesia ( TVRI ).

TVRI adalah Lembaga Penyiaran Publik pertama di Indonesia yang mengudara pertama kali pada 24 Agustus 1962. Pada masa-nya dahulu, masyarakat banyak yang dengan mudah menyaksikan siaran TVRI dari televisi di rumah, baik melalui Ultra High riquncy ( UHF ) maupun Very High Frequency ( VHF ). Apabila kita mengesampingkan Crowdeed-nya frekuensi atau saking banyaknya yang menggunakan frekuensi tersebut, maka sebenarnya kita bisa melihat dari satu sisi bahwa TVRI memang lebih unggul dan berpengalaman dalam hal pemetaan wilayah. TVRI membangun pemancarnya pada daerah tertentu sehingga masyarakat lebih mudah mendapatkan sinyal siaran tv.

Kita yang tinggal di Jawa mungkin pernah mendengar kabar atau melihat langsung tower TVRI yang mangkrak atau sudah tidak berfungsi, dan juga mengerti bahwa TVRI masih menggunakan jalur VHF walaupun pada umumnya LPS mengudara pada frekuensi UHF. Penulis melihat hal itu adalah salah satu tanda keseriusan TVRI dalam pemetaan lokasi pemancar maupun pemilihan daya jangkau frekuensi demi melayani masyarakat Indonesia. Bisa kita lihat saat ini bagaimana jangkauan siaran TV yang belum menyeluruh seperti di Imogiri / Parangtritis Bantul, Magelang, Wonosobo, dan lain-lain yang sampai saat ini harus membeli receiver parabola.

Ditengah-tengah mulainya Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mulai membahas Rancangan Undang Undang ( RUU ) Penyiaran baru-baru ini, penulis membayangkan apabila hal diatas benar-benar bisa diwujudkan oleh wakil rakyat, mungkin tower-tower yang mangkrak itu akan kembali berfungsi, masyarakat akan lebih mudah mendapatkan siaran TV Digital bahkan mungkin dalam keadaan berjalan / mobile.

Tower Bersama
Tower TVRI Pusat Jakarta
Hal lain yang bisa diwujudkan adalah dibangunnya Tower Bersama. Untuk di Jakarta, TVRI sudah mempunyai tower yang cukup besar dan tinggi. Semua perangkat pemancar ada di tower itu dan mengudara bersama pada beberapa frekuensi. Bagi kita sebagai penikmat siaran televisi, ada beberapa keuntungan diantaranya kita hanya cukup mengarahkan antena tv kita pada satu arah saja. Untuk daerah lain misalnya kota-kota besar, sebenarnya pembangunan tower bersama ini bisa menguntungkan berbagai pihak juga.

The Oriental Pearl TV Tower is located in Pudong Park in Lujiazui, Shanghai.
Misalnya Yogyakarta membangun tower bersama di Pusat Kota, berkerjasama antara TVRI dan Pemerintah Daerah, selain menjadi identitas kota, bisa juga tower ini dijadikan sebagai obyek wisata. Selain untuk pemancar tv digital, tower ini juga akan menambah pendapatan daerah dengan misalnya menyewakannya kepada pihak lain, diantaranya Internet Service Provider ( ISP ), Base Transceiver Station ( BTS ) Seluler, Pemancar Radio Digital Audio Broadcasting ( DAB ), dan lain sebagainya. Bisa juga tower bersama hotel atau mungkin sampai kantor pemerintahan.

The Fernsehturm - A television tower in the city center of Berlin, Germany
Vilnius tv tower
Ostankino Tower in Moscow that was built in 1967. It took 7 years to construct it.
This is the highest television tower in Europe which is 540 meters high.
Dari segi maintenance, listrik, dan lain-lain bisa terpusat di tower bersama tersebut. Tetapi memang untuk membangunnya dibutuhkan biaya yang sangat besar tetapi apakah hal itu tidak mungkin ?

Apakah TVRI mampu ?
Saat ini TVRI memang terkesan "tidak laku", padahal menurut penulis, acara-acara yang disuguhkan adalah acara berkualitas, unsur lokalnya juga sangat tinggi, kemungkinan karena perubahan karakter penonton tv juga. Dengan pembenahan dan peningkatan kualitas SDM serta infrastrukturnya penulis kira TVRI tetap mampu dengan dukungan berbagai pihak termasuk Pemerintah.

Maaf ini hanya angan2 penulis saja, berharap Pembahasan RUU Penyiaran sukses, adil, memakmurkan, dan berpihak kepada rakyat Indonesia.

sponsored link

Post a Comment Blogger

 
Top