Jakarta - Kunjungan Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Rudiantara ke Jepang belum lama ini, membawa 'oleh-oleh'. Ada tiga hal penting dari hasil pertemuannya dengan Minister Internal Affairs and Communications Jepang, Yoshitaka Shindo.

"Di Jepang itu saya tandatangan memorandum of cooperation. Yang ditandatangan adalah memorandum of cooperation dan cooperation package. Jadi bukan lagi MoU karena kalau MoU saya bilang saya gak mau tanda tangan," kata Rudiantara usai acara Grow Local, Go Global Baidu Indonesia, di hotel Pullman, M.H. Thamrin, Jakarta (23/9/2015). 

Hal pertama dari kesepakatan tersebut adalah, Indonesia akan bekerjasama dengan Jepang dalam meningkatkan uji coba penerapan teknologi white space TV, untuk meningkatkan penetrasi internet di daerah remote. 

"Kedua, one segmen television. Misalkan ada daerah di pulau mana yang gak ada listrik bisa lihat TV. Kita coba lakukan uji coba untuk bisa ada semacam antena untuk menurunkan konten TV kemudian diredistribusi ke masyarakat walaupun tidak banyak. Sekitar 50 rumah atau berapa," ujarnya. 

Dikatakannya, uji coba semacam ini sudah mulai dilakukan di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Barat. Dengan adanya kesepakatan ini, uji coba akan diperluas, terutama untuk daerah-daerah yang tidak mendapat akses listrik. 

"Ketiga adalah disaster management. Indonesia ini ada aja bencana. Tiap tahun kita ini mulai dari Sumatera, Jawa hingga Bali masuk dalam volcano belt. Di Jepang bencana itu frekuensinya lebih sering lagi. Nah, bagaimana kita mengkomunikasikan disaster management," sebutnya. 

Dijelaskan pria yang akrab disapa Chief RA ini, hal tersebut termasuk ketika mendapat digital dividen setelah migrasi TV analog ke digital, maka prioritas utama adalah untuk pemanfaatan frekuensi 700 Mhz-nya adalah untuk manajemen bencana. 

"Kita juga belajar dari NHK, bicara mengenai kebijakan bagaimana strategi operasional NHK di Jepang. Karena kita akan menggabungkan TVRI dan RRI," sebutnya. 

Dikatakannya ada kesamaan antara NHK dengan Televisi Republik Indonesia (TVRI) dan Radio Republik Indonesia (RRI). NHK yang merupakan gabungan antara TV dan radio Jepang sejak tahun 1930-an itu menurutnya bisa menjadi contoh untuk dipelajari dan ditiru. 

"Di sana kan NHK itu independen. Di Indonesia juga sama, TVRI dan RRI statusnya lembaga penyiaran publik, jadi mereka independen artinya siaran publik. Hanya saja di Indonesia biayanya masih dibayari oleh pemerintah. Nah di Jepang dibayar dari iuran masyarakat. Jadi ini modelnya kita pelajari bagaimana agar bisa seperti ini," ujarnya. 

'Oleh-olehnya' tersebut dikatakan Rudiantara sudah dalam tahap pembahasan di tahap Program Legislasi Nasional (Prolegnas) untuk kemudian dibahas di antara pemerintah dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Oleh: Rachmatunisa - detikinet


sponsored link

Post a Comment Blogger

 
Top