Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) hari ini merilis adanya gempa terkini yang kekuatannya besar yakni 8,3 Scala Ricter pada pukul 19.49:41 dengan kedalaman 10 km berpusat di 682 km barat daya Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Indonesia dan berpotensi tsunami. Penulis sendiri mengetahui adanya gempa itu dari tayangan televisi berupa buzzer pada audio dan keterangan gempa pada visualnya seperti gambar di bawah ini:
Gempa Mentawai hari ini 2 Maret 2016 di televisi
Info Gempa Mentawai hari ini 2 Maret 2016 di televisi
Foto tersebut diambil sekitar jam 19.57 tepat saat televisi mulai menayangkannya, disini kita lihat bahwa ada jeda waktu antara gempa realtime terjadi jam 17.49 dan warning yang muncul di televisi jam 19.57 yakni sekitar 8 menit. Waktu sebesar 8 menit mungkin sangat berarti bagi masyarakat terutama di daerah yang terdampak gempa dan berpotensi tsunami. Bisa saja dibilang bahwa waktu sebesar itu terlambat.

Pada peraturan TV Digital sebelumnya, sudah kita ketahui bersama bahwa Set Top Box haruslah memiliki sistem Early Warning System (EWS) sehingga kedepannya penyampaian informasi kebencanaan seperti gempa dan lain sebagainya lebih realtime, dengan jeda waktu yang sangat tipis sampai ke masyarakat karena BMKG langsung bisa "mengambil alih" siaran televisi. Semoga sistem EWS bisa diterapkan di sistem penyiaran digital yang saat ini sedang dibahas di DPR karena sangat bermanfaat bagi seluruh rakyat Indonesia berdasarkan peristiwa gempa yang terjadi hari ini.

Penjelasan singkat tentang gempa hari ini, oleh Ma`rufin Sudibyo, Astronom Universitas Gajah Mada:

Gempa besar yang jauh dari Kepulauan Mentawai

Magnitudnya 8,3 (lalu diperbaiki ke 7,9). Sumbernya sangat dangkal, hanya 10 km di bawah permukaan air laut (dpl). Dan daratan terdekat dengannya adalah Kepulauan Mentawai (Sumatra Barat). Dengan sebaris informasi awal ini, tak heran banyak yang terperanjat saat mendengar / menerima kabar bahwa gempa itulah yang meletup tadi (2 Maret 2016 Tarikh Umum pukul 19:50 WIB). Saya pribadi juga sempat beranggapan, nampaknya inilah gempa besar yang telah lama diprediksi itu.

Sudah sejak 15-an tahun silam disadari bahwa Kepulauan Mentawai berdiri di atas monster megathrust, sumber potensial untuk gempa jumbo. Andaikata ia melepaskan seluruh energinya, diperkirakan getaran gempa dengan magnitud sekitar 9 akan menjalar. Tak hanya gempa, mekanisme pematahan di monster megathrust ini juga akan melimburkan tsunami yang segera berderap ke pesisir barat pulau Sumatra dengan prakiraan tinggi gelombang yang membikin bulu kuduk meremang.

Namun saat mengecek posisinya dan mengeplotnya ke peta, keterperanjatan itu langsung surut. Episentrum gempa ini terletak jauh di tengah-tengah Samudera Indonesia (Indian Ocean). Kepulauan Mentawai memang daratan terdekat dengannya, namun itu pun masih sejarak tak kurang dari 680 km terhadap episentrum. Jarak yang teramat jauh. Maka tak heran jika getaran gempanya terasa lamat-lamat di daratan Sumatra. Model perhitungan yang disajikan otoritas survey geologi AS (USGS) memperlihatkan intensitas getaran yang dialami Kepulauan Mentawai dan Pulau Sumatra pada umumnya dalam gempa ini hanyalah 2 MMI (Modified Mercalli Intensity). Intensitas sekecil itu hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang cukup peka. Publik secara umum baru akan merasakan getaran gempa kala intensitas yang diterimanya minimal 3 MMI. Jarak episentral yang jauh menghasilkan intensitas gempa yang kecil. Maka tak perlu terlalu khawatir dengan kondisi Kepulauan Mentawai pasca gempa ini.

Bagaimana dengan tsunaminya? USGS juga telah melansir jenis mekanisme pematahan pada gempa ini. Ternyata disebabkan oleh pematahan geser. Ini jenis pematahan yang tak menyebabkan deformasi vertikal dasar laut di lokasi sumber gempa. Sehingga pada gilirannya juga tak menyebabkan usikan kuat pada kolom air laut diatasnya. Karena tak ada usikan, kemungkinan terbentuknya tsunami adalah cukup kecil.

Andaikata ada tsunaminya, lagi-lagi jarak yang jauh berperan menentukan. Pada dasarnya semakin besar magnitud gempanya maka semakin tinggi tsunami yang terbentuk. Namun semakin jauh dari sumber tsunami, maka tinggi tsunaminya pun turut melorot. Dalam bahasa yang lebih teknis, semakin jauh dari sumber tsunami membuat energi tsunami kian terdissipasi sehingga berdampak pada melemahnya sang tsunami (dan melorotnya ketinggiannya). Perhitungan sederhana dengan menggunakan persamaan Iida memperlihatkan dengan jarak 680 km dan dianggap magnitudo tsunami = magnitudo gempa, maka prakiraan ketinggian tsunami yang tiba di Kepulauan Mentawai berada di kisaran 15 cm. Cukup kecil dan sangat sulit berdampak signifikan.

Di atas semua itu, lepas dari paparan data dan prakiraan tadi, gempa besar ini tak menutupi fakta bahwa Kepulauan Mentawai masih menjadi salah satu kawasan rawan gempa dan tsunami di Indonesia. Mari tetap waspada (dan bersiaga pada waktunya), namun janganlah paranoia.


Mentawai Earthquake March 2016 And EWS

The Meteorology, Climatology and Geophysics (BMKG Indonesia) today released their latest earthquake great strength Scala 8.3 magnitude quake at 19:49: 41 with a depth of 10 km centered 682 km southwest of Mentawai Islands, West Sumatra, Indonesia and the potential tsunami , We are aware of the quake from television buzzer on the audio and visual information on the quake.

The photos were taken around 19:57 hours when television began to publish it right, here we see that there is a time lag between realtime earthquake occurred at 17:49 and warning that appeared on television hours 19:57 which is about 8 minutes. Time of 8 minutes may be very meaningful to the community, especially in areas potentially affected by the earthquake and tsunami. Arguably too late.

Regulatory Digital TV before, we all know that the Set Top Box must have a system of Early Warning System (EWS) so in future that the delivery of disaster information such as earthquakes and so more realtime, with a lag time of a very thin up to the public as the BMKG can directly take over television broadcast. Hopefully EWS system could be applied in the digital broadcasting system which is currently being prepared in the House because it is very helpful for all Indonesian people.

A brief explanation of the earthquake today, by Ma`rufin Sudibyo, Gajah Mada University astronomer:

Big earthquake away from the Mentawai Islands

Its magnitude 8.3 (and then corrected to 7.9). The source is very shallow, only 10 km below sea level. And the land closest to him is Kepulauan Mentawai (West Sumatra). With a line of this initial information, it's no wonder many are shocked when I heard / received news that the earthquake that erupted earlier (March 2, 2016 at 19:50 pm Public Date). I personally also briefly considered, it seems this is the massive earthquake that has long been predicted that.

Already since the 15-something years ago, it was realized that standing on the Mentawai Islands megathrust monster, a potential source for seismic jumbo. If he releases all his energy, estimated tremor with a magnitude of about 9 will spread. Not only earthquakes, breaking mechanism in this megathrust monster will also cause a tsunami that immediately marched to the west coast of the island of Sumatra with a wave height forecasts are daunting.

But when checking the position and apply to the map, the shock was immediately subsided. The epicenter of the quake was located deep in the middle of the Indonesian Ocean (Indian Ocean). Mentawai Islands is closest to the mainland, but it was still sejarak no less than 680 km of the epicenter. The distance is very far away. So no wonder if the vibration of the earthquake was not felt in mainland Sumatra. Model calculations presented the authority of the US Geological Survey (USGS) shows the intensity of vibration experienced by the Mentawai Islands and the island of Sumatra in general in this earthquake is just 2 MMI (Modified Mercalli Intensity). Intensity as small as it can only be felt by those who are quite sensitive. The general public will feel the tremor intensity when it receives at least 3 MMI. Episentral far distance produce a small earthquake intensity. So no need to be overly concerned with the condition of this post-earthquake Mentawai Islands.

What about the tsunami? USGS has also been launched on the type of fracture mechanism of this earthquake. It turned out to be caused by shear fracture. This type of fracture that does not lead to vertical deformation of seafloor in the source location of the earthquake. So that in turn also did not cause a strong perturbation in the water column above the sea. Because there was no harassment, the possibility of the formation of a tsunami is quite small.

Suppose there is depth, again played in determining distances. Basically the larger the magnitude of the earthquake, the higher the tsunami is formed. But the farther from the source of the tsunami, the tsunami height was of decline. In more technical language, the farther away from the tsunami source tsunamis increasingly making energy dissipated so the impact on the weakening of the tsunami (and decrease in height). A simple calculation using the equation Iida show with a distance 680 km and is considered tsunami magnitude equal to the magnitude of the earthquake, then the tsunami height forecast that arrived in the Mentawai Islands are in the range of 15 cm. Quite small and very difficult to have a significant impact.

On top of that, regardless of exposure data and forecasts earlier, a large earthquake is not mask the fact that the Mentawai Islands remains one area prone to earthquake and tsunami in Indonesia. Let's remain vigilant (and alert at the time), but do not paranoia.

sponsored link

Post a Comment Blogger

 
Top